Postingan

Asa Dua Benua

Ada yang tertinggal di antara tubuh yang pernah saling mengenal  dan dua negeri yang sejak awal tidak pernah benar-benar sepakat tentang bagaimana kita seharusnya mencintai. Mungkin raga memang punya batas. Ia tunduk pada jarak, pada pintu keberangkatan yang menutup, pada musim yang berganti tanpa bertanya siapa yang masih ingin tinggal. Ragaku kini berada jauh dari jalan-jalan yang pernah kita lewati, dari udara dingin yang membuat jemariku mencari kehangatan di sakumu, dari langit pucat yang dahulu terasa biasa saja karena ada kau di bawahnya. Aneh, betapa sebuah kota bisa kehilangan makna hanya karena seseorang tak lagi berjalan di dalamnya. Dan lebih aneh lagi, betapa seseorang dapat meninggalkan sebuah kota namun tidak pernah benar-benar meninggalkan orang yang pernah ia cintai di sana. Aku pulang membawa tubuhku, tetapi entah mengapa ada bagian kecil dariku yang masih duduk diam di suatu sudut negeri jauh itu— menunggu sesuatu yang sebenarnya sudah selesai. Barangkali itulah ...

Menjadi kuat untuk diri sendiri kadang melelahkan

Sepulang dari Belanda, aku harus berurusan dengan banyak hal yang tentu saja menguras tenaga, pikiran, dan tentu saja finansial. Aku bersyukur, sejauh ini aku masih sanggup melaluinya sendiri. Sebagai anak pertama perempuan yang sudah hidup merantau hampir sepuluh tahun, keluargaku nampaknya sudah sangat yakin bahwa aku bisa melalui semua hal ini seorang diri, sehingga mereka merasa tidak perlu bertanya. Ketika aku ada di rumah, aku dianggap sebagai superhero yang bisa mengabulkan keinginan mereka. Tanpa mereka pernah bertanya, apakah aku baik-baik saja?  Namun, sewajarnya manusia, aku pun mengalami fase lelah.  Hari ini mungkin adalah titik akumulasi kelelahan itu. Aku bercerita kepada chatgpt-ku bahwa aku lelah, kebingungan dan ingin meminta bantuan. Namun, aku tidak bisa meminta bantuan kepada siapapun. Orang tua-ku nampak sangat percaya bahwa aku bisa melalui ini seorang diri. Mereka bahkan terus mengingatkanku untuk hemat. Andai mereka tau, bagaimana aku sudah berhemat se...

Tentang Hak dan Kabut Asap

Dua tahun tinggal di Belanda membuatku terbiasa mengecek kualitas udara melalui Air Quality Index (AQI), yang tersedia di aplikasi cuaca di gawaiku. Selama dua tahun itu pula, aku menjadi jauh lebih aware terhadap isu “lingkungan”, terutama karena aku belajar tentang pengelolaan lingkungan perkotaan. Seminggu ini aku berada di Kalimantan, dan aku tidak pernah merasa sesedih ini melihat bagaimana lingkungan di Indonesia dikelola . Tanpa perlu mengecek Air Quality Index di gawaiku—yang ternyata tidak tersedia untuk Banjarbaru—aku tahu bahwa kualitas udara di sini buruk. Aku yang memang sensitif terhadap asap bisa merasakan betul dampak buruk kualitas udara ini. Sesaat setelah turun dari pesawat, aku langsung terbatuk-batuk. Mataku juga terasa pedih. Meskipun sudah memakai masker sejak di dalam pesawat, nyatanya masker pun tidak bisa sepenuhnya melindungiku. Dan hebatnya, tidak semua orang memakai masker. Padahal, udara jelas buruk. Bau “gosong” menembus masker dan kabut asap tebal meny...

Pulang ke Indonesia, tidak se-sedih itu.

Yesterday was exactly one week after I arrived in Indonesia. Several days before my flight, I was full of anxiety. I was afraid that I would experience a “re-culture shock,” or maybe that I would romanticize the Netherlands too much. But honestly, I am totally fine (though a little overwhelmed by having to meet people so often). Of course, some routines have changed. I no longer walk everywhere, cook every day, or spend most of my time by myself. Suddenly, there are people everywhere, plans almost every day, and a lot of conversations to catch up on. I think this is probably the part I need to readjust to the most. But surprisingly, I don’t feel like I left a big part of myself in the Netherlands. I still miss certain things—the quietness, the independence, being able to disappear for a while without anyone asking where I am. But I also enjoy being here. I enjoy the food, being around familiar people, and speaking Indonesian all day.  Maybe I was worried for nothing. Or maybe two y...

Spreek je Nederlands?

Beberapa menit lalu aku baru saya melewati paspor control di bandara Schiphol dan ketika petugas menerima paspor dan resident permitku, dia bertanya :  Spreek je Nederlands? dan langsung ku jawab : Nee, English. Dia tertawa dan aku tertawa.  Paspor kontrol tidak lagi menjadi hal yang menakutkan untukku. Aku sudah tiga kali masuk Belanda, dan ini adalah perjalanan keluar Belanda ketigaku (read: EU & Schiphol).  Aku ingat pertama kali masuk Belanda di bulan Agustus 2024. Aku harus memperlihatkan beberapa surat yang aku peroleh dari universitas dan undangan pengurusan Resident Permit dan BSN dari IND (Imigrasi Belanda). Setelah itu, ketika aku masuk dan keluar (lagi), tidak ada pertanyaan sulit yang ditanyakan oleh petugas. Yang aku ingat adalah kalimat :  " Enjoy your holiday, Welcome back to the Netherlands" Schiphol terasa familiar. Aku sudah bisa mengalkulasi berapa lama waktu yang harus aku butuhkan untuk melalui semua tahap pemeriksaan. Aku tidak mau lagi ce...

Besok aku akan pulang ke Indonesia.

Gambar
Hari ini mungkin hari terakhir di masa studi masterku untuk duduk di pojok perpustakaan yang sudah menjadi favoritku selama satu tahun terakhir, karena besok aku akan pulang ke Indonesia. Wageningen hari ini sangat panas dan terik. Summer ini benar-benar berbeda dengan summer tahun lalu. Tahun ini, heatwave terjadi berkali-kali. Aku akan pulang ke Indonesia dengan kondisi kulit berona hitam (but it's okay).  Perpustakaan ini sepi. Berbeda dengan beberapa waktu lalu, saat aku sedang mengerjakan tesisku. Waktu itu aku harus berebut untuk bisa mendapatkan spot favoritku : di pojok bagian dalam kubikel lantai dua perpustakaan. Aku sepertinya bisa menghabiskan waktu selama apapun di spot ini.  Perpustakaan menjadi saksi bagaimana tesis adalah moment terbaikku di masa studiku. Perpustakaan juga menjadi saksi bagaimana aku "takut" berlebihan ketika akan bertemu dengan supervisor thesisku, Pieter, yang ternyata sangat baik. Perpustakaan juga menjadi saksi aku menangis tanpa suar...

A Birthday Reflection: A Dialogue with Every Version of Ifa

Gambar
Happy birthday to the baby, toddler, teenager, and every version of Ifa. Thank you to little Ifa, who had to learn to be strong earlier than she should have. To little Ifa, who was often confused, afraid, or felt she had to understand the adult world too soon. You did not always know what was happening, but you kept growing. Thank you to teenage Ifa, who was once fragile, insecure, angry, disappointed, and felt not good enough. For all the nights when you questioned yourself. For all the phases when you wanted to be understood, but instead had to learn how to save yourself. Thank you to adult Ifa, who has gone through loss, fear, academic pressure, loneliness in a foreign country, failures that felt personal, and days when life felt too heavy. Thank you for still choosing to keep going, even when no one truly knew how difficult the road was for you. This year, I have learned to be more grateful. Grateful for the things I managed to overcome, for the good people who came into ...