Ku sembuhkan diriku sendiri
Tidak pernah terbayang olehku bahwa, di penghujung waktuku di Belanda, aku justru harus mengalami salah satu peristiwa paling berat dan mengejutkan dalam hidupku. Lebih sulit lagi, aku harus menghadapinya di negara yang jauh dari rumah, sendirian, dengan segala hal yang terasa berbeda.
Aku handal dalam menyelesaikan masalah. Untuk peristiwa ini, awalnya akupun kekeh menyelesaikan dengan caraku sendiri. Aku perencana yang baik. Aku merencanakan serangkaian healing plan yang pada saat itu aku yakini bisa membantuku sembuh. Namun, pada akhirnya aku menyerah. Aku sadar jika ini bukan peristiwa yang bisa aku selesaikan sendiri.
Dalam titik ini, aku merasa sendirian dan kesepian.
Aku selama ini cukup bangga karena aku terbiasa melakukan apapun sendirian. Aku terbiasa pergi sendirian, aku terbiasa hidup dengan diriku sendiri berhari-hari, aku terbiasa tinggal sendiri jauh dari rumah dan aku terbiasa mengambil keputusan-keputusan besar dalam hidup sendirian.
Tapi nyatanya, terbiasa bukan berarti aku akan terus-terusan bisa melakukan semua hal sendirian dan tidak merasa kesepian.
Terutama ketika sesuatu yang terjadi terlalu besar untuk ditanggung sendiri. Ada jenis luka yang tidak cukup disembuhkan dengan rencana yang rapi, perjalanan singkat, daftar kegiatan, atau usaha untuk tetap terlihat baik-baik saja. Ada hal-hal yang, sekuat apa pun aku mencoba mengendalikannya, tetap membuatku runtuh pelan-pelan.
Aku belajar bahwa menjadi mandiri bukan berarti harus selalu kuat tanpa bantuan. Menjadi mandiri juga bisa berarti tahu kapan harus berhenti memaksakan diri, kapan harus mengakui bahwa aku sedang tidak baik-baik saja, dan kapan harus membiarkan orang lain hadir.
Mungkin selama ini aku terlalu terbiasa menjadi orang yang menyelesaikan semuanya. Terlalu terbiasa menjadi orang yang berpikir cepat, mengambil keputusan, dan mengurus akibatnya sendiri. Tetapi peristiwa ini membuatku memahami bahwa ada batas dari kemampuan manusia untuk bertahan sendirian. Dan mengakui batas itu bukan kegagalan. Itu bagian dari bertahan hidup.
Aku tidak ingin mendramatisasi apa yang terjadi. Tetapi aku juga tidak ingin mengecilkan dampaknya terhadap diriku. Karena kenyataannya, peristiwa itu mengguncang banyak hal dalam hidupku: rasa aman, kepercayaan, caraku berinteraksi dengan orang lain, bahkan caraku memahami diri sendiri.
Di titik paling rapuh itu, aku mulai belajar menerima bahwa pemulihan bukan proses yang lurus. Ada hari ketika aku merasa lebih kuat. Ada hari ketika aku kembali bingung, marah, sedih, atau takut tanpa alasan yang jelas. Ada hari ketika aku merasa sudah baik-baik saja, lalu tiba-tiba sesuatu kecil mengembalikanku pada perasaan yang sama.
Dan mungkin, untuk saat ini, tugasku bukan memaksa diriku untuk segera pulih. Tugasku adalah bertahan dengan lebih jujur. Mengakui bahwa aku terluka. Mengakui bahwa aku butuh waktu. Mengakui bahwa aku boleh membutuhkan bantuan.
Di penghujung waktuku di Belanda, aku tidak hanya belajar tentang studi, riset, atau kehidupan akademik. Aku juga belajar tentang batas kekuatan, tentang rapuhnya manusia, dan tentang pentingnya tidak selalu menghadapi semuanya sendirian.
Aku masih belum sepenuhnya tahu ke mana proses ini akan membawaku. Tetapi satu hal yang mulai kupahami: menjadi kuat tidak selalu berarti tidak pernah jatuh. Kadang, menjadi kuat berarti berani mengatakan bahwa aku sedang jatuh, lalu perlahan mencari cara untuk berdiri lagi tidak harus sendirian.
Marrakesh, Morocco
22:14, 23 May 2026
22:14, 23 May 2026
(sebagian draf di tulis di Malaga, Spanyol)
Komentar
Posting Komentar