Asa Dua Benua
Ada yang tertinggal di antara tubuh yang pernah saling mengenal dan dua negeri yang sejak awal tidak pernah benar-benar sepakat tentang bagaimana kita seharusnya mencintai. Mungkin raga memang punya batas. Ia tunduk pada jarak, pada pintu keberangkatan yang menutup, pada musim yang berganti tanpa bertanya siapa yang masih ingin tinggal. Ragaku kini berada jauh dari jalan-jalan yang pernah kita lewati, dari udara dingin yang membuat jemariku mencari kehangatan di sakumu, dari langit pucat yang dahulu terasa biasa saja karena ada kau di bawahnya. Aneh, betapa sebuah kota bisa kehilangan makna hanya karena seseorang tak lagi berjalan di dalamnya. Dan lebih aneh lagi, betapa seseorang dapat meninggalkan sebuah kota namun tidak pernah benar-benar meninggalkan orang yang pernah ia cintai di sana. Aku pulang membawa tubuhku, tetapi entah mengapa ada bagian kecil dariku yang masih duduk diam di suatu sudut negeri jauh itu— menunggu sesuatu yang sebenarnya sudah selesai. Barangkali itulah ...