Asa Dua Benua

Ada yang tertinggal di antara tubuh yang pernah saling mengenal 

dan dua negeri yang sejak awal tidak pernah benar-benar sepakat tentang bagaimana kita seharusnya mencintai.

Mungkin raga memang punya batas.
Ia tunduk pada jarak, pada pintu keberangkatan yang menutup, pada musim yang berganti
tanpa bertanya siapa yang masih ingin tinggal.

Ragaku kini berada jauh dari jalan-jalan yang pernah kita lewati,
dari udara dingin yang membuat jemariku mencari kehangatan di sakumu,
dari langit pucat yang dahulu terasa biasa saja karena ada kau di bawahnya.

Aneh,
betapa sebuah kota bisa kehilangan makna
hanya karena seseorang tak lagi berjalan di dalamnya.

Dan lebih aneh lagi,
betapa seseorang dapat meninggalkan sebuah kota namun tidak pernah benar-benar meninggalkan
orang yang pernah ia cintai di sana.

Aku pulang membawa tubuhku, tetapi entah mengapa ada bagian kecil dariku yang masih duduk diam
di suatu sudut negeri jauh itu— menunggu sesuatu yang sebenarnya sudah selesai.

Barangkali itulah asa.

Ia lebih keras kepala daripada raga.

Raga tahu kita telah berpisah.
Raga tahu ada lautan, ada waktu, ada kehidupan yang harus diteruskan di belahan bumi yang berbeda. 

Tetapi asa tidak pernah pandai membaca kenyataan.

Ia masih sesekali membuka pintu untuk kemungkinan-kemungkinan kecil:

bagaimana jika dunia sedikit lebih sederhana?

Bagaimana jika nama, asal, warna kulit, bahasa ibu, keluarga, sejarah, dan segala hal yang diwariskan kepada kita tidak pernah dianggap lebih penting daripada dua manusia yang hanya ingin memilih satu sama lain?

Bagaimana jika kita lahir di tempat yang sama, dengan wajah yang tidak membuat siapa pun bertanya,
dengan nama yang tidak membawa begitu banyak cerita, dengan rumah-rumah yang tidak dibangun terlalu jauh antara satu keyakinan dan keyakinan lainnya?

Apakah saat itu kau akan tetap menjadi seseorang yang harus kulepaskan?

Atau justru kita akan menjalani hari-hari biasa:

Kadang aku membenci asa karena ia membuat hal-hal sederhana itu terlihat mungkin.

Padahal kita tahu tidak semua cinta kalah karena kurang besar.

Ada cinta yang kalah karena dunia terlalu ramai ikut menentukan.

Ada cinta yang selesai bukan karena dua orang berhenti saling menginginkan,
melainkan karena terlalu banyak suara berdiri di antara keduanya.

Dan mungkin itulah bagian paling menyakitkan:

aku tidak punya seseorang untuk dibenci.

Hanya keadaan, dan keadaan tidak punya wajah yang dapat kutatap lalu kutanya:

Mengapa?

Mengapa mempertemukan dua manusia jika pada akhirnya keduanya harus belajar
bahwa mencintai saja kadang tidak cukup?

bagaimana mungkin dua manusia yang pernah sedekat itu sekarang dipisahkan
oleh ribuan kilometer?

Dulu aku tahu bagaimana rasanya berdiri di hadapanmu.

Kini bahkan aku tidak tahu cuaca seperti apa yang sedang menyentuh wajahmu.

Mungkin hidup memang seperti itu.

Ia mengambil seseorang dari keseharian kita namun membiarkan ingatannya tinggal
seolah ingin menguji berapa lama hati manusia mampu memelihara sesuatu
yang tidak lagi dimilikinya.

Hari ini aku masih merindukanmu dengan cara yang bahkan sulit kuakui kepada diriku sendiri.

Aku rindu bukan hanya kepada pelukan, suara, tangan, atau tatapanmu.

Aku rindu kepada diriku ketika berada di dekatmu.

Kepada versi diriku yang tidak perlu memikirkan perpisahan.

Kepada hari-hari ketika masa depan belum datang membawa begitu banyak syarat.

Aku rindu kepada kemungkinan bahwa kita pernah hampir menjadi sesuatu
yang lebih panjang daripada kenangan.


Komentar